Ini aku ambil dari film Taare Zameen Par. Film India tentang anak kecil yang mengidap penyakit Diseleksia. Naasnya orangtua maupun gurunya di sekolahnya tak mengerti dengan keadaan anak tersebut. Walhasil, si anak selalu dihukum oleh guru-gurunya. Dan Bapak dari anak tersebut selalu kecewa dengan buruknya prestasi anaknya. Padahal dia merupakan orangtua yang sangat kompetitif dalam segala bidang, khususnya pendidikan. Anak itu kerap kali mengalami perlakuan kasar dan umpatan-umpatan dari Bapaknya. Akhirnya orangtuanya merasa bahwa anaknya butuh didikan sebuah asrama. Hiksss, sedih banget pas dia pisah sama Ibunya. Namun, anak itu menemukan kebahagiaan di dalamnya dengan seorang Guru baru Mata Pelajaran Seni. Hemmmm, pokoknya recommended nih pilemm. Baguss.... Buat para orangtua en para pendidik maupun para calon Ibu, calon Bapak, en calon guru..^___^
(Halah, halah.. Kok jadi sinopsis film gini seh...)
Ada sebuah kisah yang aku suka dari film ini, mengenai dahsyatnya pengaruh sebuah kata-kata. Kisah ini diceritakan oleh si Guru Seni kepada Bapaknya si anak.
Guru : “Pak, Kau pernah mendengar kisah tentang Pulau Salomon?”
Bapak : “Tidak, aku belum membacanya”
Guru : “Di pulau Salomon, ketika penduduk asli ingin bagian hutan untuk ditanami. Mereka tidak menebang pohon. Mereka bersama-sama mengelilingi pohon dan meneriaki kata-kata kasar. Dan itu menumbangkannya. Pada suatu hari, pohon itu kisut dan layu. Dan dia mati dengan sendirinya.”
Renungkan sendiri dahh...^^v
:virginitas:
Rabu, 22 Desember 2010
Awalnya sih aku gak terlalu peduli sama nih topik. Karena selama ini aku emang gak ngeliat adanya anomali yang berkaitan dengan itu di sekitar lingkungan –ma’had-ku...(*omongane sokyess).
Emmm, aku tuh rada tergelitik baru akhir-akhir ini. Ketika aku mulai bersosialisasi dengan orang lingkungan luar. Dengan kawan-kawanku yang udah kerja lah, nikah, dll. Kalo dulu kan emang bisa dikatakan aku beruntung dapet lingkungan yang bisa njaga aku, ndidik aku. Tapi wawasan pergaulanku hanya sebatas, tugas kuliah, taklim, diklat organisasi, praktikum, dst. Maen2 sama temen-temen emang iya, tapi masih dalam ranah kewajaran lah. Aku sama sekali gak terlalu peduli tentang masalah luar yang ternyata nggak ramah lagi.
Nah, balik lagi ke masalah keperawanan utowo keperjakaan. Ternyata untuk nemuin orang yang bener-bener menjaga sekarang itu sulit banget yah. Trip ku kali emang bener-bener membuka mata aku dengan segala realita di luar. Temenku, cowok en cewek. Mereka punya bekal agama yang cukup baik. Mereka berdua yang mulai sedikit berbagi cerita dengan aku. Tentang cinta mereka, pergaulan teman-teman mereka, cara berpacaran jaman sekarang yang bikin aku bergidik ngeri. Awal-awalnya sih emang rada gak percaya gitu. Tapi emang gitu lah adanya.
Kata Bapak, “Dunia tak lagi ramah, Putriku. Ketika kalian membukakan mereka pintu, jangan salahkan siapapun kalo kalian kemalingan. Sebenarnya sikap mereka itu cerminan dari sikap kalian...”
Aku pun beberapa bulan terakhir ini sempat jalan-jalan ke dunia YM, disitu emang luar biasa kita bebasnya. Tak sedikit dari mereka yang mengakui kalo mereka emang udah gak virgin ato perjaka lagi. Dan hal itu sudah mereka anggap sebagai suatu hal yang biasa. Hem, hem... Ckckckck. Luar biasa. Bikin aku ngeri sendiri.
Aku emang gak semestinya tutup mata dengan hal yang seperti ini. Karena besok atau lusa aku gak tau aku bakalan tinggal di lingkungan yang seperti apa. Aku tak selamanya tinggal di lingkungan yang mendukung dan mendidikku untuk tetep jadi “anak manis”. Kalo wawasan tentang “dunia luar” emang sangat amat kolot, hati-hati aja. Gak sedikit, anak yang lulusan pesantren pun setelah mereka keluar dari pondok juga terjerumus didalamnya. Na’udzubillahi min syarri dzalik. Bener-bener harus waspada. Kalo sekarang realitanya udah begini, gimana 5 atau 10 tahun kedepan?
“Y Allah, jagalah diriku keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang tersayangku dari segala macam godaan duniawi-Mu. Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqna ththibaa’a, wa arinal baathila baathilaa warzuqnal thinaaba...”
Emmm, aku tuh rada tergelitik baru akhir-akhir ini. Ketika aku mulai bersosialisasi dengan orang lingkungan luar. Dengan kawan-kawanku yang udah kerja lah, nikah, dll. Kalo dulu kan emang bisa dikatakan aku beruntung dapet lingkungan yang bisa njaga aku, ndidik aku. Tapi wawasan pergaulanku hanya sebatas, tugas kuliah, taklim, diklat organisasi, praktikum, dst. Maen2 sama temen-temen emang iya, tapi masih dalam ranah kewajaran lah. Aku sama sekali gak terlalu peduli tentang masalah luar yang ternyata nggak ramah lagi.
Nah, balik lagi ke masalah keperawanan utowo keperjakaan. Ternyata untuk nemuin orang yang bener-bener menjaga sekarang itu sulit banget yah. Trip ku kali emang bener-bener membuka mata aku dengan segala realita di luar. Temenku, cowok en cewek. Mereka punya bekal agama yang cukup baik. Mereka berdua yang mulai sedikit berbagi cerita dengan aku. Tentang cinta mereka, pergaulan teman-teman mereka, cara berpacaran jaman sekarang yang bikin aku bergidik ngeri. Awal-awalnya sih emang rada gak percaya gitu. Tapi emang gitu lah adanya.
Kata Bapak, “Dunia tak lagi ramah, Putriku. Ketika kalian membukakan mereka pintu, jangan salahkan siapapun kalo kalian kemalingan. Sebenarnya sikap mereka itu cerminan dari sikap kalian...”
Aku pun beberapa bulan terakhir ini sempat jalan-jalan ke dunia YM, disitu emang luar biasa kita bebasnya. Tak sedikit dari mereka yang mengakui kalo mereka emang udah gak virgin ato perjaka lagi. Dan hal itu sudah mereka anggap sebagai suatu hal yang biasa. Hem, hem... Ckckckck. Luar biasa. Bikin aku ngeri sendiri.
Aku emang gak semestinya tutup mata dengan hal yang seperti ini. Karena besok atau lusa aku gak tau aku bakalan tinggal di lingkungan yang seperti apa. Aku tak selamanya tinggal di lingkungan yang mendukung dan mendidikku untuk tetep jadi “anak manis”. Kalo wawasan tentang “dunia luar” emang sangat amat kolot, hati-hati aja. Gak sedikit, anak yang lulusan pesantren pun setelah mereka keluar dari pondok juga terjerumus didalamnya. Na’udzubillahi min syarri dzalik. Bener-bener harus waspada. Kalo sekarang realitanya udah begini, gimana 5 atau 10 tahun kedepan?
“Y Allah, jagalah diriku keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang tersayangku dari segala macam godaan duniawi-Mu. Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqna ththibaa’a, wa arinal baathila baathilaa warzuqnal thinaaba...”
Ganti Suasana
Hahay, bosen sama suasana batuan. Ganti dedaunan jee... :-)
Sedap dipandang...
Tapi, gadget2 diatas gak tau cara ngilanginnya. Bentar. Ane googling dulu...
Sedap dipandang...
Tapi, gadget2 diatas gak tau cara ngilanginnya. Bentar. Ane googling dulu...
Langganan:
Postingan (Atom)